
Dalam pengelolaan
Madrasah Diniyah ( Madin ) Al-Ridlo yang
bernaung di bawah Pondok Pesantren Al-Ridlo Desa Purbasari, kami mendapatkan informasi dari Departemen
Agama Purbalingga, waktu itu baru ada rencana ada seksi Pekapontren ( melalui
pak Humam ) bahwa Pondok Pesantren yang
menambah tiga mata pelajaran
umum, yakni Bahasa Indonesia, matematika dan bahasa inggris, bisa mendapatkan
ijazah dari Departemen Agama setara pendidikan formal.
Berdasarkan
informasi tersebut diatas kami mencoba mengkomunikasikan dengan pengurus Madin, dan mendapat respon positif. Kemudian kami selaku Kepala Madin berupaya melacak kejelasan informasi itu ke
Depag Purbalingga. Setahun sudah berlalu walhasil kami tidak memperoleh
keterangan yang jelas mengenai hal diatas sampai di Depag berdiri Pekapontren
dengan Kasi Bapak Syamsul Bahri. Dalam
hal ini Beliau memberi saran agar saya melakukan konsultasi dengan Dinas
Pendidikan Kabupaten Purbalingga ( PLS-nya).
Dinas
Pendidikan Kabupaten Purbalingga meminta saya untuk mengajukan proposal pendirian Kejar Paket C. Maka kami membuatnya dan mengajukanya kembali.
Namun dari Diknas Kabupaten untuk masalah ini saya diminta untuk
mengkonsultasikanya dengan Dinas Pendidikan Kecamatan Karangreja. Bapak Azhari
selaku Kepala Dinas Kecamatan karangreja akhirnya meminta saya untuk mebuat
surat pernyataan kesanggupan mengelola
Kejar Paket C sampai selesai. Disamping itu beliau juga menginformasikan bahwa
di Purbasari masih banyak anak usia sekolah
SMP yang tidak sekolah. Dan Pemerintah sedang menggalakan program wajar
dikdas 9 tahun.
Tantangan
yang diberikan Kepala Dinas Pendidikan Kecamatan Karangreja membuat saya
mengambil langkah mengumpulkan calon Warga Belajar dan memberikan pengertian
kepada mereka bahwa progran Kejar Paket C itu swadana. Alhamdulilah dacapai satui kesepakatan sanggup
jika pengelolaan Kejar Paket C itu swadana. Disamping itu saya juag
mengumpulkan calon Tutor untuk membagi
tugas mapel. Dalam musyawarah ini saya sampaikan adanya proyek Kejar
Paket B dengan target 5000 orang di Kabupaten Purbalingga.
Dengan
mengingat di desa Purbasari masih banyak
anak putus sekolah ( tidak melanjutkan ke SMP/MTs) maka teman-teman
pengurus menghendaki agar tidak hanya
Kejar Paket C yang diadakan
tetapi,Kejar Paket B juga. Maka disaat yang bersamaan kami mengelola
Kejar Paket C dan Kejar Paket B.
Tahun pertama kegiatan belajar mengajar dapat berjalan
dengan baik. Namun di akhir tahun sedikit ada masalah yakni ada beberapa warga belajar kami ( Warga Belajar Paket B ) yang mengikuti ujian SMP Terbuka. Meskipun
dalam rekruitmen Warga Belajar kami sudah menanyakan kepada yang bersangkutan
telah terdaftar di SMP Terbuka apa belum ? Semuanya menyampaikan belum. Hal ini
sempat membuat gempar Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga ( PLS-nya) Sebab diberitakan di mass media bahwa
Kejar Paket B mencatut siswa SMP Terbuka. Dalam pemberitaan terjadi di
Kecamatan Karangjambu.
Masalah ini dapat diselesaikan dengan baik setelah Dinas
Pendidikan melakukan sidak termasuk ke KPB AL-Ridlo. Dan tidak terbukti ditempat kami mencatut siswa SMP terbuka.
Masalah tersebut berdampak kepada Warga Belajar. Mereka menjadi kurang
aktif dalam pembelajaran. Sehingga kami selaku pengelola berupaya lebih
memotifasi Warga Belajar dengan berbagi kegiatan tambahan dengan mengedakan
persahabatan sepak bola, rekreasi, dan majlis ta’lim setiap hari Ahad Pahing.
Disamping Kejar Paket B dan Kejar Paket C ,kami juga
mengelola Kejar Paket A KF ( Keaksaraan Fungsional) . Hal ini dilakukan setelah
kami mengamati di desa Purbasari masih banyak masyarakat yang belum melek
aksara, dan kami konsultasikan dengan Tenaga Lapangan dikmas ( TLD ) Kecamatan
Karangjambu.
Pada Tahun yang sama, dengan mempertimbangkan kebutuhan
masyarakat di belahan timur Purbasari, Yakni Pringgading dan Sigupit yang belum
tersentuh pendidikan bagi anak usia dini, maka kami juga mengupayakan
berdirinya PAUD disana dengan nama PAUD AL-FATAH.
Untuk meningkatkan keterampilan sebagai bekal hidup, kami
juga mengupayakan berdirinya Kelompok Belajar Usaha kaligrafi dan sapu. Setelah
mereka mampu memprodulsi dengan baik permasalahan yang ada terjadi pada pemasaran barang tersebut. Masalah ini belum
terpecahkan hingga sekarang.
Dengan melihat program PLS mengenai pendidikan
kesetaraan, dan mempertimbangkan di desa Purbasari ( tepatnya di Rw 02) masih banyak masyarakat
yang belum mengenyam pendidikan dasar setara SD( belum tamat SD ) maka pada tahu 2006 kami juga
mengupayakan berdirinya KPA Setara SD.
Disamping itu untuk meningkatkan pelayanan kami terhadap
Warga Belajar Paket A KF, KPA Setara SD , KPB Setara SMP, dan KPC Setara SMA,
dan Masyarakat lainya kami harus bisa menyediakan bahan bacaan yang memadahi.
Maka kami mengupayakan dengan mendirikan Taman Bacaan Masyarakat.
Untuk menyatukan semua kegiatan itu pada bulan Maret 2008
kami telah membentuk Pusat Kegiatan Belajar masyarakat yang kami beri nama PKBM AL-RIDLO, dengan
sekretariat di rumah Baopak Yahya AM.
Pengajuan ijin operasioanal PKBM ini sampai saat ini sedang dalam
proses.



0 komentar:
Posting Komentar